Jingga seakan menghiasai gradasi sore iniKu melemah dengan terbenamnya matahari
Duri yang tertancap .... kapankah ia kan musnah setitik dan tak berbekas
Duri yang tertancap .... kapankah ia kan musnah setitik dan tak berbekas
Di ruang lapang ini ku tambatkan jasadku
Sebagai baktiku pada ilmu
Deraan partikel yang sejuk menerpa jemari
mengantarku pada sebuah mimpi
bak rindunya senyuman alam dalam setiap sinarnya
mengantarku pada sebuah mimpi
bak rindunya senyuman alam dalam setiap sinarnya
Bukan dia tapi akulah yang nyata
Kini...lapangnya hati terkikis oleh abrasi sesal
berganti dan tergantikan
Jingga telah berganti menajadi kelabu
Gelap...pekat dan tak bernyawa
Kutengok sungai yang mulai mengering membinasakan kehidupan
Aku ingat akan banyang-bayang yang lekat terpampak dalam benak
Dia tumbang dengan cobaan
aaahhh....ini semua membuat alam semakin marah
dan membuat batu apung semakin mengarang
Seandainya aku bisa menggali karang dengan jemariku
Aku kan lakukan itu....
Seandainya ku bisa menimba air laut, akan kupindahkan ke telagamu
Seandainya ku bisa menimba air laut, akan kupindahkan ke telagamu
Tapi ku tak mampu membangun dinding dalam hati
Ingin rasanya kurobohkan untuk mencapaimu
tapi...sia-sia
Karena sesungguhnya yang kucari bukan engkau
Karena sesungguhnya yang kucari bukan engkau
tapi...Dia
Semarang, 1 Juni 2008
di Kamar Ilmu
By : Femyla As sa'diyah